1212000205-Rezav Habi _ Tugas resume pengantar ekonomi mikro _TEORI PERILAKU KONSUMEN DENGAN PENDEKATAN ORDINAL

 

 

TUGAS RESUME

TEORI PERILAKU KONSUMEN DENGAN PENDEKATAN ORDINAL

 

Perilaku konsumen merupakan hal yang selalu menjadi perhatian para ahli ekonomi dan pelaku usaha. Para ahli ekonomi modern mulai meninggalkan konsep pendekatan kardinal dan menerapkan pendekatan ordinal atau ordinal utility approach untuk mempelajari perilaku konsumen. 

Pengertian Pendekatan Ordinal

Pendekatan ordinal atau ordinal utility approach dikembangkan oleh banyak ahli ekonomi. Beberapa di antaranya, yaitu John R. Hicks, R. G. Allen, Vilfredo Pareto, dan Ysidro Edgeworth.  Secara singkat, pendekatan ordinal adalah suatu pendekatan yang menganggap kepuasan tak dapat diukur secara kuantitatif, tetapi berjenjang dan hanya bisa dibandingkan. Pendekatan ini didasarkan pada fakta bahwa utilitas suatu barang atau komoditas tidak bisa diukur dalam jumlah absolut.

Asumsi dalam Pendekatan Ordinal

Rationality

Setiap konsumen diasumsikan bertindak rasional, yaitu berusaha mengejar kepuasan maksimum walaupun dihadapkan dengan keterbatasan bujet.

Utility is Ordinal

Merujuk pada asumsi tersebut, kepuasan tidak dapat diukur, tetapi hanya bisa dibandingkan atau sifatnya bertingkat.

Transitivity and Consistency of Choice

Konsumen akan selalu konsisten dalam membuat pilihan antara berbagai kombinasi barang atau komoditas. Dengan kata lain, jika konsumen lebih menyukai barang A dibandingkan dengan barang B, dan konsumen tersebut lebih menyukai barang B daripada barang C, konsumen pasti lebih menyukai barang A dibandingkan dengan barang C.  Dalam bentuk persamaan matematika, situasinya akan menjadi: Jika A > B dan B > C, maka A > C.

Non Satiation 

satiation’ dalam bahasa Inggris berarti ‘kenyang’. Dengan demikian, ‘non satiation’ secara harfiah bisa diartikan ‘tidak kenyang’. Asumsi yang satu ini menyatakan bahwa konsumen menyukai barang dalam jumlah lebih banyak daripada yang sedikit. Konsumen juga diasumsikan selalu ingin terus mengonsumsi barang atau komoditas. Inilah yang sering disebut sebagai “asumsi ketiadaan kepuasan” atau “konsumsi tanpa kejemuan” (assumption of satiation).

Indifference Curve

Seperti telah dibahas sebelumnya, ahli ekonomi yang mencetuskan ordinal utility approach salah satunya adalah John R. Hicks. Secara khusus, Hicks telah menerapkan pendekatan ordinal untuk mempelajari perilaku konsumen. 

Interpretasi grafis diandalkan oleh sebagian besar ahli ekonomi dalam penerapan ordinal utility approach untuk memperjelas ide atau gagasan yang ingin diungkapkan. Adapun elemen grafis yang digunakan, salah satunya indifference curve atau kurva ketidakpedulian.

Indifference curve (IC) adalah kurva yang menggambarkan kombinasi konsumsi dua macam barang atau jasa yang menghasilkan tingkat kepuasan yang sama. Setiap titik dalam kurva melambangkan tingkat kepuasan yang tidak berbeda (indifference), meski kombinasi konsumsi barang atau jasanya berbeda-beda.

 

Ciri-Ciri Pendekatan Ordinal

1.      Memiliki Slope atau Kemiringan Negatif

Berhubung indifference curve mempertahankan kepuasan yang sama, maka penambahan di satu barang harus diimbangi dengan pengurangan barang lainnya.

 

Dengan kata lain, misal saat konsumen berusaha menambah pakaian, kompensasinya jumlah makanan harus dikurangi. Itulah alasan IC bentuknya mengarah ke bawah (downward sloping).

 

2.      Cembung ke Arah Ordinat

Bentuk kurva cembung didasarkan pada asumsi tingkat subtitusi marjinal atau marginal rate of substitution yang terus berkurang. Marginal rate of substitution (MRS) adalah ukuran yang menggambarkan sejauh mana konsumen bersedia menukarkan barang yang satu dengan barang lainnya dalam kurva IC yang sama.

 

3.      Semakin ke Kanan, Semakin Tinggi Kepuasannya

Posisi IC yang lebih tinggi atau lebih ke kanan menggambarkan jumlah pakaian dan makanan yang lebih banyak. Posisi IC tersebut tentunya lebih disukai konsumen karena memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

4.      Sesama Indifference Curve Tidak Saling Berpotongan

Sesama kurva IC tidak mungkin saling berpotongan sebab adanya asumsi konsistensi dan transitivity.

 

Sesuai asumsi konsistensi atau transitivity, karena A = B dan A = C, maka seharusnya B = C. Artinya, konsumen harus memperoleh kepuasan yang sama di titik B dan C.

 

Namun, pada kenyataannya kombinasi B lebih banyak mengandung makanan daripada kombinasi C. Jadi, secara logis, berdasarkan asumsi tadi, konsumen mustahil memperoleh kepuasan yang sama dari kombinasi B dan C. Itulah sebabnya kurva IC tidak mungkin saling berpotongan.

 

Dari sudut pandang pendekatan ordinal, konsumen juga tidak dapat menilai secara kuantitatif terkait besaran kepuasan yang diperolehnya.

 

Maka dari itu, hal terbaik yang dapat dilakukan oleh pemilik usaha ialah memastikan bisnis memberikan pelayanan terbaik dan produk dengan kualitas sehingga pengalaman pelanggan pun optimal dan konsumen merasa puas.

Komentar